Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 April 2013
Sabtu, 06 April 2013
Apa itu atheisme?
Jawaban: Atheisme adalah
pandangan bahwa tidak ada Allah. Atheisme bukanlah perkembangan baru. Mazmur
14:1 yang ditulis oleh Daud sekitar tahun 1.000 SM menyebut tentang atheisme –
“Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah" (Mazmur 14:1).
Statistik baru-baru ini menunjukkan meningkatnya angka orang-orang yang menjadi
atheis, di mana angka orang-orang yang menyatakan diri sebagai penganut
atheisme mencapai 10% dari orang-orang di dunia. Jadi mengapa makin banyak
orang yang menjadi penganut atheis? Apakah atheisme benar-benar adalah posisi
yang logis sebagaimana yang diklaim oleh para penganutnya?
Mengapa atheisme ada? Mengapa
Allah tidak mengungkap diri kepada orang sehingga membuktikan bahwa Dia ada?
Kalau Allah menyatakan diri pastilah semua orang akan percaya kepadaNya!
Masalahnya adalah Tuhan bukan hanya mau meyakinkan manusia bahwa Dia ada.
Kehendak Allah adalah untuk orang percaya kepadaNya dengan iman (2 Petrus 3:9)
dan menerima karunia keselamatan (Yohanes 3:16). Ya, Allah bisa saja
memperlihatkan diri dan dengan tuntas membuktikan keberadaanNya. Masalahnya
adalah Allah telah berkali-kali membuktikan keberadaanNya dalam Perjanjian Lama
(Kejadian 6-9; Keluaran 14:21-22; 1 Raja-Raja 18:19-31). Apakah orang percaya
bahwa Allah itu ada? Ya! Apakah mereka berpaling dari jalan yang jahat dan
menaati Allah? Tidak! Jika seseorang tidak bersedia menerima keberadaan Allah
dengan iman, maka jelas mereka tidak siap untuk dengan iman menerima Yesus
sebagai Juruselamat mereka (Efesus 2:8-9). Itulah yang dikehendaki Allah –
supaya orang-orang menjadi orang Kristen dan bukan hanyak kaum theis
(orang-orang yang percaya bahwa Allah itu ada).
Alkitab memberitahu kita bahwa
keberadaan Allah harus diterima dengan iman. Ibrani 11:6 mengatakan, “Tetapi
tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa
berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi
upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Alkitab mengingatkan kita
bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia saat kita percaya kepada Allah
dalam iman, “Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka
engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya"”
(Yohanes 20:29).
Fakta bahwa keberadaan Allah
harus diterima dengan iman tidak berarti kepercayaan kepada Allah tidak logis.
Ada banyak argumen yang bagus untuk keberadaan Allah. Silahkan kunjungi halaman
“Apakah Allah ada?” Alkitab mengajarkan bahwa keberadaan Allah dapat dilihat
dengan jelas dalam jagad raya (Mazmur 19:2-5), dalam alam (Roma 1:18-22) dan
dalam hati kita sendiri (Pengkhotbah 3:11). Sesudah mengatakan semua itu,
sekali lagi keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan, harus diterima dengan
iman.
Pada saat yang sama, juga
dibutuhkan banyak iman untuk bisa percaya pada atheisme. Membuat pernyataan
mutlak “Allah tidak ada!” adalah mengklaim mengetahui secara mutlak segala
sesuatu yang perlu diketahui tentang segala sesuatu – dan menyatakan bahwa
sudah pernah mengunjungi semua tempat – dan menyaksinya semua hal. Pada
dasarnya itulah yang mereka klaim ketika mereka mengatakan bahwa Allah tidak
ada. Kaum atheis tidak dapat membuktikan misalnya, bahwa Allah tidak berdiam di
tengah-tengah matahari, atau di bawah awan Yupiter, atau di nebula yang jauh.
Hal ini tidak dapat dibuktikan, sehingga tidak ada bukti bahwa Allah tidak ada.
Ini tidak dapat dibuktikan sehingga tidak ada bukti bahwa Allah itu tidak ada.
Untuk menjadi orang atheis diperlukan iman sebanyak menjadi orang theis.
Jadi kita kembali ke garis awal.
Atheisme tidak dapat dibuktikan dan keberadaan Allah harus diterima dengan
iman. Saya percaya, dengan kuat, bahwa Allah ada. Saya bersedia mengakui bahwa
kepercayaan saya pada keberadaan Allah adalah berdasarkan iman. Pada saat yang
sama dengan tegas saya menolak ide bahwa kepercayaan pada Allah adalah tidak
logis. Saya percaya bahwa keberadaan Allah dapat dengan jelas dilihat,
dirasakan dan dibuktikan secara filosofis dan ilmiah di mana perlu. Sekali
lagi, untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi halaman “Apakah Allah
ada?” Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan
tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan
pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka
tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan
mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari”
(Mazmur 19:2-5).
Sumber :
http://www.gotquestions.org/Indonesia/atheisme.html
Rabu, 16 Mei 2012
SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADIS DIMASA SAHABAT TABI’IN
A.
HADIS PADA MASA SAHABAT
Membicarakan
hadis pada masa sahabat, berarti membicarakan hadis pada masa periode kedua,
setelah masa perkembangan hadis pada zaman rosullullah. Periode kedua sejarah
perkembangan hadis adalah masa sahabat khususnya masa khulafa’ar-rasyidin (Abu
Bakar, Umar Bin Al-Khottab, Usman Bin Affan, Dan Ali Bin Abi Tholib) masa in
terhitung sejak tahun 11 H sampai dengan 40 H, yang disebut juga dengan masa
sahabat besar. Pada masa sahabat besar ini, perhatian mereka masih terfokus
kepada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an, dengan demikian maka periwayatan
hadis belum begitu berkembang. Bahkan mereka berusaha membatasi periwayatan
hadis tersebut. Oleh karena itu, masa ini oleh para ulama’ dianggap sebagai
masa yang menunjukkan adanya pembatasan atau memperketat periwayatan
(At-Tatsabut wa Al-Iqlal min Ar-Riwayah).[1]
Pemeliharaan Amanah Rosullullah
Pada masa
menjelang akhir kerosulannya, Rosul SAW. Berpesan kepada para sahabat agar
berpegang kepada Al-Qur’an dan hadis. Serta mengajarkannya kepada orang lain
sebagaimana sabdanya:
“telah aku tinggalkan untuk kalian 2 macam yang tidak akan
sesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunahku
(Al-Hadis). Dan sabdanya pula:
“sampaikanlah dariku walau satu ayat/satu hdis”
siapa saja
yang berpegang pada keduanya (Al-Qur’an dan Al-Hadis) secara bersama-sama,[2] ia
mendapat jaminan Rosul SAW tidak akan hidup tersesat, baik di dunia maupun di
akhirat.
Kehati-Hatian Para
Sahabat Dalam Menerima Dan Meriwayatkan Hadis
Setelah
Rosul SAW wafat. Perhatian para sahabat terfokus pada usaha penyebaran luasan
dan memelihara Al-Qur’an, meskipun perhatian mereka terpusat kepada upayah
pemeliharaan dan penyebaran Al-Qu r’an, akan tetapi tidak berarti mereka
melakukan dan tidak menaruh perhatian terhadap hadis, mereka memegang hadis
sebagai amanah Rosul SAW sebagaimana halnya yang di dalam meriwayatkan mereka
sangat berhati-hati dan membatasi diri, kehati-hatian dan usaha membatasi
periwayatan yang dilakukan para sahabat disebabkan karena mereka takut terjadi
kekeliruan yang mereka sadari bahwa hadis merupakan sumber ajaran setelah
Al-Qur’an.
§ Khalifah
pertama yang menunjukkan perhatian yang serius dalam memelihara hadis adalah
Abu Bakar. Menurut Adz-Dzahabi, abu bakar adalah sahabat yang pertama kali
menerima hadis-hadis Rosul SAW. Setelah Rosul SAW wafat. Abu Bakar pernah
mengumpulkan para sahabat, kepada mereka ia berkata “kalian meriwayatkan
hadis-hadis Rosul SAW yang diperselisihkan orang-orang, padahal orang-orang
setelah kalian akan lebih banyak berselisih karenanya. Maka janganlah kalian
meriwayatkan hadis tersebut.
§ Sikap
kehati-hatian juga dianjurkan oleh Umar Ibnu Khotib. Sikap kedua sahabat itu
juga diikuti oleh Usman dan Ali pada masa ini belum ada usaha resmi untuk
menghimpun hadis dalam suatu kitab. Seperti halnya Al-Qur’an, hal ini
disebabkan, antara lain:
-
Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam,
dalam mempelajari Al-Qur’an bahwa para sahabat yang banyak menerima hadis dari
Rosul SAW. Sudah tersebar keberbagai daerah kekuasaan Islam, dengan kesibukan
masing-masing sebagai pembina masyarakat. Sehingga dengan kondisi seperti ini,
ada kesulitan mengumpulkan mereka secara lengkap
-
Bahwa soal membukukan hadis, dikalangan para
sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat, belum lagi soal lafadz dan
kesahihannya.
Periwayatan Hadis Dengan Lafaz Dan Makna
Periwayatan lafzhi
Adalah
periwayatan hadis yang redaksinya atau matanya persis seperti yang diwurudkan
Rosul SAW, ini hanya bisa dilakukan apabila mereka hafal benar apa yang
disabdakan Rosul SAW. Menurut ‘Aljaj Al-Khottab seluruh sahabat menginginkan
agar periwayatan itu dengan lafzhi bukan dengan maknawi, hingga satu huruf atau
satu kata pun tidak boleh diganti periwayat hadis dengan jalan lafzhi adalah
Ibnu Umar
Periwayatan Maknawi
Adalah
periwayatan hadis yang matanya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari
Rosul SAW, akan tetapi maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang
dimaksud oleh Rosul SAW tanpa ada perubahan sedikit pun
Periwayatan
hadis dengan maknawi akan mengakibatkan munculnya hadis-hadis yang redaksinya
antara satu hadis dengan hadis lainnya berbeda-beda. Meskipun maksud atau
maknanya tetap sama. Hal ini sangat tergantung kepada para sahabat atau
generasi berikutnya yang meriwayatkan hadis-hadis tersebut.
Ø
Upaya Para Ulama Men-Taufi’qkan Hadis Tentang
Larangan Menulis Hadis
Perselisihan
para ulama dalam soal pembukuan hadis, berpangkal pada adanya 2 kelompok hadis.
Hadis yang pertama menunjukkan adanya larangan Rosul SAW menuliskan kembali
hadis yang berbunyi:
“janganlah kamu sekalian menulis apa saja dariku selai
Al-Qur’an. Siapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaknya dihapus
ceritakan apa yang diterima dariku, itu tidak mengapa. Siapa yang dengan
sengaja berdusta atas namaku, ia niscaya menepati tempat duduknya dari neraca”.
Sedangkan
kelompok kedua:
“tulislah! Demi zat yang dariku berada pada kekuasaannya
tidak ada yang keluar dari padanya kecuali yang benar”.
Adanya dua
kelompok hadis diatas, mengundang perhatian para ulama untuk menemukan
penyelesaiannya dan akhirnya mereka men-taufi’q-kan keduanya sehingga keduanya
tetap digunakan.
Menurut
An-Nabawi dan As-Suyuti, bahwa larangan tersebu t dimaksudkan bagi yang kuat
hafalannya, sehingga tidak ada kekhawatiran terjadinya lupa. Akan tetapi bagi
orang yang khawatir lupa atau kurang ingatannya, dibolehkan mencatatnya.
Menurut Ibnu Hajar All-Asqalani, larangan Rosul SAW menulis hadis adalah ketika
Al-Qur’an diturunkan, ini karena ada kekhawatiran tercampurnya antara ayat
Al-Qur’an dengan hadis. Kemudian larangan itu juga dimaksudkan agar penulis
Al-Qur’an dan hadis tidak ditulis dalam suatu shuhuf.[3]
B.
HADIS PADA MASA TABI’IN
1.
sikap dan perhatian para tabi’in terhadap
hadis
Sebagaimana para sahabat. Para
tabi’in juga cukup berhati-hati dalam periwayatan hadis. Hanya saja beban
mereka tidak terlalu berat jika dibanding dengan yang dihadapi para sahabat.
Pada masa ini Al-Qur’an sudah dikumpulkan dalam mushaf. Selain itu pada masa
khulafa’ar-rasyidin para sahabat ahli hadis telah menyebar kebeberapa wilayah
kekuasaan Islam. Maka dari itu penyebaran pada masa tabi’in disebut (intisyar
Al-Riwayah Ila Al-Amshar)
2.
pusat-pusat pembinaan hadis
Tercatat
beberapa kota
sebagai tempat pembinaan dalam periwayatan hadis, sebagai tempat tujuan para
tabi’in dalam mencari hadis. Kota-kota tersebut yaitu:
a.
Madinah oleh Rosul SAW
b.
Makkah oleh
-
Mu’adz Ibn Jabal
-
Haris Ibn Hisyam
-
Dan ‘Utbah Ibn Alharis
-
‘Atab Ibn Asid
-
Utsman ibn thalbah
c.
Kuffah oleh
-
Ali Ibn Abi Tholib
-
Sa’ad Ibn Waqas
-
dan Abdilah Ibn Mas’ud
d.
Basrah oleh
-
Anas Ibn Malik
-
Abdl Ibn Abbas
e.
Syam oleh
-
Abu Ubaidah Al-Jarrah
-
Billal Ibn Rabah
f.
Mesir oleh
-
Amr Ibn Al-‘Ash
-
Uabah Binamr
g.
Maghiribi dan andalus oleh
-
Salamah Ibn Al-Akwa
-
Walid Ibn Uqbah Ibn Abu Muid
h.
Yaman oleh
-
Muadz Ibn Jabal
-
Abu Musa Al-Asy’ary
3.
perpecahan politik dan pemalsuan hadis
Peristiwa yang menghawatirkan dalam sejarah perjalanan hadis
ialah terjadinya pemalsuan hadis yang salah satu penyebaran ialah terjadinya
perpecahan politik dalam pemerintahan
Jumat, 17 Februari 2012
ARTI SYMBOL (LAMBANG) C, R, & TM Pada MEREK
Simbol
® merupakan kepanjangan dari Registered Merk artinya merek terdaftar.
Merek- Merek yang menggunakan simbol tersebut mempunyai arti bahwa merek
tersebut telah terdaftar dalam Daftar Umum Merek yang dibuktikan dengan
terbitnya sertifikat merek.
Simbol TM merupakan kepanjangan dari Trade Mark artinya Merek Dagang. Simbol TM biasanya digunakan orang
untuk mengindikasikan bahwa merek dagang tersebut masih dalam proses.
Baik proses pengajuan di kantor merek ataupun proses perpanjangan karena
jangwa waktu perlindungan (10tahun) yang hampir habis (expired). *Namun
bagi negara-negara yang menganut sistem merek "first in use" seperti
Amerika Serikat tanda ™ berarti merek tersebut telah digunakan dan
dimiliki.
Sedangkan Simbol © kepanjangan dari copyright artinya
Hak Cipta, merupakan logo yang digunakan dalam lingkup cipta dengan
kata lain karya tersebut orisinil. Pengunanaan simbol © dapat digunakan
walaupun karya tersebut tidak dapat dibuktikan dengan sertifikat hak
cipta, karena perlindungan hak cipta bersifat otomatis (automathic
right), namun adanya sertifikat hak cipta dapat menjadi bukti formil
dimata penegak hukum. Komponen penting dalam hak cipta khususnya
lukisan/ logo, yaitu:
1. Pencipta (sebagai pemegang hak moral)
2. Pemegang Hak Cipta
3. Obyek Ciptaan
4. Kapan dan dimana ciptaan itu dibuat/ diumumkan
Logo R, TM dan C merupakan suatu tanda yang biasanya dicantumkan dengan
tujuan untuk menghalangi pihak yang akan meniru atau menjiplak
karyanya, dimana secara tidak langsung ingin memberitahuan bahwa
produknya atau karyanya telah diajukan permohonan atau telah terlindungi
haknya.
Kamis, 16 Februari 2012
DIALOG RASULULLAH DAN IBLIS
Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis agar menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya seperti ekor lembu.
Iblis pun memberi salam sampai 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga beliau keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga beliau sengsara untuk beberapa lama, kisah Nabi Daud as dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi aku diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau dapat mengenaliku karena engkau adalah Khatamul Anbiya. Aku datang atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga akhir zaman nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, aku tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatahpun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar karena ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku dapat merubah diriku seperti manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. Andaikan aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu juga aku berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan makanan dan minuman, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan perempuan bercampur. Di sana aku lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan akhirnya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka lalu hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan aku rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras aku goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu adalah anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian aku tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan manusia yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya aku saja yang ingkar. Oleh karena itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun aku masih belum puas dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadah dan balasan pahala serta syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia dan memberitahu manusia yang lain tentang apa yang sebenarnya aku dapatkan dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri rahasia karena banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
“Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan aku tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda manusia pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya tidak kuat sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan hukuman yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an karena Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an karena Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku lalu aku lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, aku tidak berani memandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan : “Jikalau ada Nabi sesudah aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, aku tidak bisa bertemu karena lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang menghampiri dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, niscaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadah dan beliau adalah golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, aku semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril as : “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu seperti Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Jadi dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah beramal saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu aku goda agar manusia minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka aku rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang belajar agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka aku lari dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang dapat menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang dapat membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang dapat memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.
(Dikutip dari : KH. Abdullah Gymnastiar, Muhasabah Kiat Sukses Introspeksi Diri, Penerbit Difa Press, September 2006)
Langganan:
Postingan (Atom)

